Sementara yang Ada – Part II

2

Akhirnya, tulisan bersambung itu berhasil disambungkan malam ini 🙂
Enjoy and happy reading….

Perihal keyakinan dan keraguan. Ylo tampaknya mulai tidak bisa membedakan mana keyakinan dan mana keraguan. Dia ragu untuk meninggalkan pintu milik lelaki itu. Disisi lain, Ylo juga yakin jika hubungan ini tidak akan bertahan lama. Tenaganya mulai habis, Ylo hanya berusaha beristirahat sebentar bersama bantuan lelaki pemilik pintu itu dan kemudian Ylo akan melanjutkan pergi, menuju rumahnya.

Lelaki itu semakin rekat menyembunyikan semua rahasianya bersama Ylo. Akhir-akhir ini semuanya terkesan lebih natural, terlihat memang tidak terjadi apa-apa antara Ylo dan lelaki itu. Hingga pada akhirnya, dengan segala permintaan maaf yang dia punya, lelaki itu mengatakan bahwa tempatnya bukan di sini. Dia harus kembali kerumahnya dimana dia seharusnya tinggal.

Ylo tertegun. Menatap heran kalimat yang sudah dengan rapi dia siapkan, ternyata lebih dahulu diungkapkan oleh lelaki itu. Tak ada yang bisa dibenarkan, mereka tahu bahwa rumahlah dimana tempat mereka harus kembali. Herannya, seketika itu pula Ylo sembuh. Dan layaknya lelaki itu, Ylo juga kembali menuju rumah diamana dia harus pulang. Rumah yang sebelumnya sempat ditinggalkan. Rumah yang senantiasa menyambut ramah kedatangannya.

Harusnya kita memahami, bahwa rumah memang diperuntukkan untuk kita pulang, kembali. Maka berhentilah bertingkah konyol dengan menjadikan tanah lumpur yang becek sebagai tempat persinggahan sementara pengganti rumah.

Finish….

nb :
Teruntuk kita semua yang selalu sibuk mencari tanpa berusaha bersyukur atas apa yang telah dimiliki. Belum terlambat untuk pulang, selagi rumah masih dengan ramah menyambut kedatangan kalian.
Selamat Malam 🙂

Advertisements

Sementara yang Ada

2

Haiiii…
Udin lamak bingit gak ngeblog dan nengok perkembangannya. Kalian pokoknya harus banyak-banyak maklum sama mahasiswa tingkat akhir kalo gak mau bikin mereka naik darah. Oke, udah ngerti kan maksudnya.
Gak tau kenapa mendadak kangen aja nulis (kecuali skripsi ya, nykripsi lah bahasa gaulnya). Jadi, pagi hari yang cerah ini didedikasikan untuk ngeblog setelah nyaris selesai revisi.

-Abaikan saja prolognya-
Zzzzz…

Matanya bersinar beberapa detik dan kemudian berkaca-kaca. Dia bilang, dia telah menemukan. Tubuhnya roboh kemudian dia merasakan hidung dan matanya penuh dengan air, wajahnya mendadak terasa hangat. Dia tidak bisa berkata-kata lagi, yang jelas dia merasa bahagia, sangat bahagia.

Perempuan itu tumbuh layaknya perempuan lainnya. Pernah kudengar bahwa namanya Lyloa Annastasya. Meskipun nama panggilan seringkali diwakili oleh penggalan awal nama depan atau penggalan akhirnya, namun dia lebih suka dengan penggalan tengah nama depannya, Ylo (baca: ilo). Entah lebih pantas disebut nama panggilan atau istilah asing yang tidak punya makna.

Ylo tidak pernah berusaha mencari, dia hanya berusaha menemukan. Dia percaya bahwa seringkali mengaumkan keinginan hanya akan membuatnya kecewa, lalu dia hanya berusaha untuk menemukan tanpa kemudian berusaha mencari. Benar saja, dia menemukannya.

Dia masih belum yakin. Apa yang dia temukan hanya berusaha memeluknya tanpa kasat mata dan seringkali dia tidak menyadari bahwa pelukan itu ada. Lalu dia mencoba memisahkan apa yang disebutnya rumah dan apa yang disebutnya pintu. Dia biarkan rumah tersebut tetap tinggal bersama pelukan tersebut, sementara dia pergi menuju masa depan dengan membawa pintu dan berusaha menemukan yang tepat untuk membukanya.

Ditengah perjalanan, dia bertemu dengan pintu lainnya dan mempersilahkannya untuk sementara bertempat tinggal di dalamnya, dan begitu pula sebaliknya. Pintu itu milik lelaki yang juga sedang berusaha menemukan kembali. Semacam prinsip barter atau timbal balik. Mereka kemudian menemukan tempat ternyaman dalam kesementaraan itu. Perempuan hanya berusaha untuk mengikhlaskan dengan menyadari batas waktu yang telah disepakati, sementara lelaki masih ingin berada di sana.

Mereka terlibat perbincangan panas, banyak sekali konflik batin yang terlalu naif untuk diabaikan. Kemudian, mereka bertetap pada kenyamanan. Sepertinya rasa nyaman sudah menjadi tolak ukur yang paling mumpuni bagi mereka. Mereka tidak lagi saling bertukar tinggal, mereka menghadapkan pintu mereka dengan arah yang berlawanan pada posisi panel buka pintu yang berada di luar. Mereka percaya bahwa dengan begitu akan membebaskan mereka untuk masuk dan kembali bertemu satu sama lain dalam ruang yang sama tanpa harus diketahui orang lain karena mereka mengaktifkan sistem pura-pura tidak tahu kepada orang lain.

Mereka merasa begitu nyaman dan sejujurnya Ylo juga merasa begitu sakit. Mereka hanya merasakan kenyamanan ketika bersama kemudian harus kembali berpura-pura tidak tahu kepada orang lain. Ylo sering mengatakan bahwa apa jadinya ini pada akhirnya namun lelaki itu hanya tersenyum.

Bersambung…

Akan Selalu Salah

0

Suara : Andalia Ayu Putry
Backsound : Instrumen Lagu Puisi

Datanglah malam yang selalu menjelma dalam dewa ketenangan
Esok adalah hari baru yang dihadiahkan Tuhan setelah masa peristirahatan
Sanggupkah kau lihat mataku?
Rasakan bersama salah yang pernah kita buat dalam kelelahanku dan kekecewaanmu

Adakah yang mampu membenarkan kita?
Hanya diri kita sendiri yang mampu
Bagaimana pun bagi mereka ini tetap salah, terlebih aku
Namun mereka tahu apa tentang kita?
Mereka hanya bisa berjalan bersama logikanya ketika menilai yang benar dan yang salah
Sedangkan kita menilainya dalam sudut pandang rasa
Apakah penilaian itu tetap adil jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda?

Mereka akan bersikeras bahwa ini salah
Dan kita, tetap bersikeras bahwa mereka tidak tahu dan tidak merasakan yang sebenarnya
Tidak akan pernah adil jika mengadili kita lewat logika

Biarlah…
Rasa tetap rasa
Dan logika tetaplah logika

AAP
7 Desember 2014 22 : 43 WIB

Kita, Dulu dan Kini

0

Suara bercerita kali ini sebenernya gak niat diposting di blog. Cuma pemuasan diri aja untuk ngisi soundclound yang kering kerontang. Tapi mendadak temen lama dan pacarnya jadi bintang jatuh yang ngebuat moodbooster jadi maksimal gini. Akhirnya dipostinglah suara bercerita kali ini lewat blog.
Postingan ini terkhusus untuk Febriana Sagita dan aak tercintanya. Enjoy reading and listening 🙂

Suara : Andalia Ayu Putry
Backsound : For Just a Moment – David Foster

Maukah kau kuajak bernostalgia?
Kumohon mengangguklah
Aku tahu kamu tak akan bisa menolaknya

Masih ingatkah kamu akan percakapan awal kita dulu yang terkesan malu-malu?
Aku terkikik jika aku ingat bagaimana kamu dengan sabar mengajariku agar aku tidak kaku memanggilmu sayang
Atau aku yang seharian tidak menegurmu karena kamu terlambat menjemputku
Selalu ada cerita ketika kita masih dengan mudah bertatap raga

Masih tentang dulu
Ingatkah kamu bagaimana suara isakanku ketika tahu kita akan terpisah jarak?
Butuh waktu bulanan bagiku untuk menetralkan keadaan
Sampai akhirnya aku mulai terbiasa

Belakangan ini hubungan kita mulai tidak harmonis
Bagiku, kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sampai mengabaikanku
Komunikasi yang selalu diakhiri dengan pertengkaran
Rasa tidak pedulimu yang mulai meninggi
Sampai, tingkat kecemburuanmu yang sangat minim

Hingga pada saatnya aku merasa bahwa kamu benar tak memperdulikanku
Tidakkah kau cemburu mendengar ceritaku bahwa aku diantar oleh teman lelakiku
Tidakkah kau cemburu mendengar ceritaku bahwa aku dijemput oleh teman lelakiku
Jika tidak, mungkin inilah waktunya ujian besar bagi kita

Coba kau lihat langit, apakah akan selalu turun hujan ketika langit mendung?
Dan apakah akan selalu ada kesanggupan menerima jika kepedulian tidak lagi ada?