Maukah Kau Menungguku?

2

Izinkan aku bertanya
Apakah rasamu masih tetap sama?
Jika iya, dengarkanlah ini
Adakah pohon akan membenci angin?
Atau hujan yang membenci awan?
Sekencang apa pun angin menerjang pohon, pohon akan tetap sadar bahwa kodratnya untuk jatuh dan diganti dengan generasi yang baru
Sekuat apa pun awan menjatuhkan hujan ke bumi, hujan akan tetap sadar akan kodratnya untuk jatuh dan memberi kabar gembira untuk makhluk di bumi
Begitu pula dengan kita
Aku tak harus membenci cara Tuhan menumbuhkan rasa cinta ini
Hanya saja seharusnya rasa ini tetap menjadi rasa agar terjaga dari kata salah
Lalu, jalan apa yang seharusnya kita tempuh?

Boleh aku bertanya lagi?
Benarkah kau ingin tahu?
Seperti pohon yang tak bisa membenci angin
Dan juga hujan yang tak dapat membenci awan
Semestinya kita tetap berjalan pada garis masing-masing
Mengalir bersama arus yang membawa kita bertahun-tahun belakangan ini
Sama seperti pohon dan hujan yang merasakan sakit akibat angin dan awan
Namun mereka mempercayakan ada kebaikan beserta itu semua

Sayang
Lepaskanlah semua
Mari kita kembali pada langkah awal kita sebelum semuanya membelok seperti ini
Lepaskanlah aku selayaknya kamu meneteskan obat merah pada lukamu
Akan terasa sakit, perih
Namun akan menyembuhkan
Terus bersamaku hanya akan membuat lukamu tak berasa sakit
Namun tetap tak akan pernah sembuh

Bagaimana?
Apa ada yang salah dengan perkataanku?
Jika kau tidak terima, dengarkanlah ini
Maukah kau menungguku?

Baturaja, 13 Desember 2014
Pukul 00:24 WIB

diikutsertakan dalam #BunyiPuisi oleh @KampusFiksi

nb :
Sebenarnya aku emang lagi gila menumpahruahkan perasaan lewat media soundcloud. Mendadak ada tantangan ini, yaudah coba ikutan aja walaupun aku gak tau pasti ini layak disebut puisi atau tidak. But, let me express it 🙂

20 Tahun Lagi

0

 

Tak kusangka setelah sekian lama akhirnya kita bisa bersisian. Wajahmu masih tetap kukenali meski tak persis sama seperti yang dulu. Banyak kerutan yang tampak di wajahmu, matamu sudah mulai berkantung dan di dahimu tampak sebuah tulisan permanen yang terbaca yaitu presiden. Ternyata ambisimu makin meroket. Semakin jatuh maka akan semakin meroket. Entah analogi macam apa itu yang jelas seperti itulah kenyataannya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyamu membuka percakapan.

“Kau bisa lihat aku baik-baik saja.” Jawabku.

“Hah, makhluk seperti kau ini yang paling mudah diingat orang. Keras, menyebalkan dan penuh misteri.”

Aku diam. Ada baiknya untuk tak menanggapi.

Pelayan mulai mendatangi kita. Membawakan dua gelas jus jagung dan dua porsi mie aceh. Kamu pernah bilang jus jagung adalah minuman terburuk yang pernah ada, aku masih sangat ingat  itu. Dan hari ini kamu mengecualikan perkataanmu itu dengan alasan yang tak kutahui. Entah ada angin apa sampai kamu rela untuk menyamakan menu denganku dan hebatnya ini semua kunikmati secara gratis.

“Sedang menjilat ludah sendiri?” tanyaku.

Kamu mengernyitkan dahi seolah tak mengerti. Kemudian aku memberi isyarat lewat lirikanku terhadap jus jagung yang sedang kau nikmati. Entah dengan terpaksa atau sukarela.

“Ini pengecualian. Aku juga ingin menikmati apa yang kau anggap nikmat.”

“Apa termasuk menikmati apa yang kuanggap tidak nikmat?”

“Ah sudahlah. Sedari tadi kita terlihat kurang akrab. Bagaimana jika kita mencoba berdamai terlebih dahulu.” Tukasmu.

Aku diam lagi dan lebih memilih menikmati mie aceh yang sudah mulai mendingin. Kamu yang melihatku sedang asyik bersantap malah mengikuti kegiatanku. Kita diam sejenak. Hanya ada suara perlengakapan santap sore kita yang bersentuhan satu sama lain.

***

“Apa saja kegiatanmu?”

“Menikmati kehidupan sebagai seorang istri.”

“Masih bergulat dengan kebiasaan lama?”

“Itukan hanya sekedar kelebihan yang tak pernah terlalu kudalami. Lagipula aku takut dibilang musyrik.”

“Lho? Bukannya itu sebuah anugerah yang patut disyukuri. Bukti nyatanya itu suamimu.”

Aku diam lagi. Kali ini untuk meredakan amarah.

Kamu tidak pernah berubah. Bagaimana bisa kamu akan tetap bertahan dengan mimpi-mimpi yang tinggi jika kamu sendiri yang menjatuhkannya. Sampai kapan kamu bisa bertahan?

“Sudahlah, aku sangat mengerti apa yang membuatmu tiba-tiba datang menemuiku setelah sekian tahun kita tak pernah bertemu, menjamu dengan makanan kesukaanku dan bahkan menyamakan menu denganku padahal sudah sangat jelas kamu tidak menyukainya, berubah seolah menjadi malaikat yang penuh kelembutan. Semuanya pura-pura kan?”

“Ada apa denganmu? Apa suamimu marah kita jalan bersama?”

“Tidak! Tidak sama sekali. Aku bahkan sudah terlebih dahulu bercerita kepadanya sebelum kamu sempat menelpon untuk mengajakku bertemu hari ini. Dan dia sama sekali tidak marah. Sama sekali.”

“Lalu apa?” katamu pura-pura sabar.

“Sudahlah. Bagaimana kamu bisa bertahan dengan mimpi-mimpimu jika kamu yang selalu berusaha menjatuhkannya? Aku bukan Tuhan, Rangga. Kenapa kamu datang kepadaku untuk melihat masa depanmu? Kenapa kamu bertanya padaku tentang keinginanmu untuk menjadi presiden 25 tahun kelak? Kenapa kamu bertanya padaku seolah aku tahu segalanya tentang masa depan.”

“Itulah kelebihanmu.”

“Tapi bukan untuk dimanfaatkan oleh orang-orang sepertimu kan?” jawabku lantang.

Kamu akhirnya terdiam.

“Kenapa kamu tidak berusaha memantaskan dirimu untuk mencapai mimpi-mimpimu? Mengapa kamu tidak berusaha untuk menjadi orang yang lebih jujur? Kenapa kamu tidak berusaha untuk terlebih dahulu memperbaiki dirimu? Kamu harus menjadi orang yang lebih baik dulu.”

Kamu menunduk terdiam. Tak lama kamu meninggalkanku. Aku tersenyum lega dan berkata dalam hati, “Aku tahu kamu yang akan memimpin bangsa ini 20 tahun lagi Rangga.”

*Diikutsertakan dalam #DramatisasiPolitik oleh @KampusFiksi

Dia dan Imbalannya

0

Kangen nulis. Semalam, sukup senggang dan coba-coba ikut #CERMIN.
Dan hasilnya ya gini

SELAMAT MEMBACA …

Kulihat dia sudah siap menunggu kedatangan kekasihnya. Setiap pagi, bahkan hari ini lebih pagi dari biasanya. Dia bilang kekasihnya akan tidak bisa mengantar jika lebih dari jam setengah tujuh pagi. Jadilah dia yang harus bangun lebih pagi dan mengerjakan segala pekerjaan rumah lebih pagi lagi agar tetap bisa diantar kekasihnya. Semua itu hanya demi satu, demi menghemat jatah pengeluaran tiap bulannya. “Kalau gak dianter jemput oleh Ari, tekor aku. Kalau  ngandelin gaji yang cuma tiga ratus ribu tiap bulan, gak balik modal.” Begitulah katanya.

Sepulang mengajar, kulihat wajahnya begitu murung. Tak perlu kutanya, dia telah terlebih dahulu bercerita.

“Aida mau berhenti mengajar. Dia dipaksa keluarganya nyari kerjaan lain yang gajinya lebih besar. Benar sih gaji kita memang kecil bahkan jauh dibawah UMR.”

Aku tersenyum kemudian mencoba memberikannya jalan untuk berpikir dengan sesadar-sadarnya.

Besoknya, dia kembali bersemangat. Kembali menjalani rutinitasnya dan merelakan diri menjadi salah satu bagian pelaksana tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan upah tiga ratus ribu rupiah per bulan. Satu lagi, tanpa kehadiran Aida, teman kerjanya yang terlebih dahulu mengundurkan diri karena alasan uang.

Cara Kita Mencinta

0

Kamu terlambat.
Masih sangat jelas bagaimana kamu mengatakan kalimat tersebut. Pipiku yang awalnya merona akibat rasa malu-malu seketika berubah menjadi merah padam. Bagaimana mungkin ikan lupa kodratnya akan air. Bagaimana mungkin manusia lupa akan kodratnya untuk pulang. Bagaimana mungkin pula janji melupakan kodratnya untuk ditepati. Dan kau baru saja mengabaikannya.

Janji yang kita sepakati bersama. Kau berjanji untuk menjadikanku teman hidupmu. Bagaimana mungkin kau lupa? Bagaimana bisa kau dengan mudahnya memberikan cincin pertunangan untuk orang lain sementara aku berjuang dan menunggu untukmu. Dimana perasaanmu?

Terlalu rumit untuk kujelaskan.
Begitulan penjelasanmu hingga kau membuat segalanya semakin mengabur. Kau bilang itu adalah penjelasan yang paling sejelas-jelasnya. Benar saja, jelas sekali bahwa kau tidak mau memberikan penjelasan. Aku cukup tahu.

***

Mencintai bukan berarti harus seketika memiliki. Mencintai bukan berarti juga tak bisa memiliki. Kita memilih jalan tengah. Bersama dalam maya namun berpisah dalam nyata. Biarlah kita membohongi semesta dengan membuatnya menjadi wajar-wajar saja. Dan biarlah kita tetap bersama dalam persembunyian.

Mengejutkan. Rentetan kalimat panjang keluar dari mulutmu. Sayang, aku tak begitu paham. Bergegas kujawab, “Maksudmu?”

“Aku tetap menepati janji. Biarlah kita mengumbar kemesaraan dalam pertemanan.”

Aku masih belum yakin. Lalu kucoba kembali bertanya,”Teman tapi mesra?”

Kau tersenyum puas seolah ada permintaan hati yang telah tersampaikan kemudian kau mengagguk.
***

#(Pernah) diikutsertakan dalam FF 2in1 @NulisBuku, namun aku lupa waktu keberlangsungannya.

Mengingat Kembali

1

“Aku tak langsung menjadi menjadi aku yang sekarang yang bisa melakukan sesuatu sendiri, memilih pakaian yang cocok untuk dipakai tiap hari, mengubah bahasa kata menjadi perbuatan dan mengerti bagaimana bisa bertahan hidup serta melakukan hal-hal yang logis. Dulu aku hanya seonggok daging yang bernyawa, tak bisa melakukan apa-apa, lemah, menerjemahkan semua kejadian berlandaskan  pengetahuan yang dangkal dan tanpa logika.”

Mengingat masa lalu memang memberikan kenangan tersendiri. Hidup yang sebentar ini pun ternyata akan memberikan banyak kenangan. Misalnya ketika melihat kalkulator, aku teringat teman SD yang selalu menjemputku sebelum pergi sekolah yang waktu itu meminjam kalkulator mamaku untuk menjawab soal di ‘buku cetak’ Matematika. Ketika melihat diary, aku teringat Ossy, manusia paling berjasa yang mempertemukanku dengan tulisan hingga aku bisa segila ini dengan dunia menulis.

Aku lupa momen apa waktu itu yang jelas Ossy memberikanku sebuah diary mungil berwarna pink bergambar Pink Hanna. Masih kusimpan hingga sekarang di rumah orang tua kandungku, di Baturaja. (Sayang aku tak bisa menampilkannya secara visual karena saat ini aku tidak berada di rumah orang tuaku). Dari diary itulah masa percintaanku dengan dunia menulis dimulai. Mengisi diary ala anak SD dengan semua kejadian nyata pada hari itu membuatku merasa menemukan dunia baru disamping bermain dengan teman sebayaku. Hingga saat SMP  aku mulai merambah di dunia perlombaan. Pertama sekali aku mengikuti lomba Karya Tulis Peningkatan Iman dan Taqwa. Meskipun tidak menjadi juara namun panitia memberikan penghargaan atas keikutsertaanku. Hingga sekarang, sudah banyak lomba yang kuikuti, mulai dari lomba menulis cerpen, lomba menulis puisi, lomba essai dan berbagai lomba menulis yang banyak dipromosikan lewat twitter.

ii

Banyak lomba yang kuikuti tapi hanya sedikit yang memilihku menjadi pemenang. Tak apa, itu bukan alasan untuk berhenti menulis karena pada dasarnya aku mencintai dunia menulis. Dan mencintai tak perlu menuntut balasan namun mereka sendirilah yang akan menyerahkan hatinya hingga menerima kehadiranku di dunia mereka, dunia menulis. Kehadiran kesenangan dan kelegaan sehabis menulis sudah sangat cukup bagiku apalagi jika aku bisa diapresiasi lewat penghargaan. Ah, begitu menakjubkan.

Bagiku, membandingkan adalah salah satu cara untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik. Sayangnya, aku belum membandingkan tulisanku ini dengan pesaing lainnya. Dan aku percaya penuh kepada @bellazoditama dan @Kopilovie untuk membandingkannya. Jika setelah dibandingkan aku berada dikoridor yang pantas untuk diapresiasi aku menyambutnya dengan suka cita karena kebanggaan adalah mendapatkan apresiasi lewat hal yang dibuat secara original, tanpa keterpaksaan dan membuahkan senyum kelegaan setelah menyelesaikannya. Dan aku menjamin 100% untuk ketiga kriteria itu dalam tulisan ini. Jika aku memang bukan merupakan salah satu manusia pilihan sebagai pemenang dalam kuis ini, tak apa. Karena dikalahkan oleh orang yang memang pantas menjadi pemenang adalah guru yang bisa menyadarkan untuk tidak menjadi sombong dan mengajarkan untuk lebih banyak belajar agar pada kesempatan berikutnya pantas menjadi pemenang.

Terimakasih Ossy Clara Nita Nanda Triar yang sekarang aku tak tahu dia dimana. Semoga kita bisa bertemu kembali agar aku bisa mengucapkan terima kasih