Dia dan Imbalannya

0

Kangen nulis. Semalam, sukup senggang dan coba-coba ikut #CERMIN.
Dan hasilnya ya gini

SELAMAT MEMBACA …

Kulihat dia sudah siap menunggu kedatangan kekasihnya. Setiap pagi, bahkan hari ini lebih pagi dari biasanya. Dia bilang kekasihnya akan tidak bisa mengantar jika lebih dari jam setengah tujuh pagi. Jadilah dia yang harus bangun lebih pagi dan mengerjakan segala pekerjaan rumah lebih pagi lagi agar tetap bisa diantar kekasihnya. Semua itu hanya demi satu, demi menghemat jatah pengeluaran tiap bulannya. “Kalau gak dianter jemput oleh Ari, tekor aku. Kalau  ngandelin gaji yang cuma tiga ratus ribu tiap bulan, gak balik modal.” Begitulah katanya.

Sepulang mengajar, kulihat wajahnya begitu murung. Tak perlu kutanya, dia telah terlebih dahulu bercerita.

“Aida mau berhenti mengajar. Dia dipaksa keluarganya nyari kerjaan lain yang gajinya lebih besar. Benar sih gaji kita memang kecil bahkan jauh dibawah UMR.”

Aku tersenyum kemudian mencoba memberikannya jalan untuk berpikir dengan sesadar-sadarnya.

Besoknya, dia kembali bersemangat. Kembali menjalani rutinitasnya dan merelakan diri menjadi salah satu bagian pelaksana tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan upah tiga ratus ribu rupiah per bulan. Satu lagi, tanpa kehadiran Aida, teman kerjanya yang terlebih dahulu mengundurkan diri karena alasan uang.

Advertisements

Cara Kita Mencinta

0

Kamu terlambat.
Masih sangat jelas bagaimana kamu mengatakan kalimat tersebut. Pipiku yang awalnya merona akibat rasa malu-malu seketika berubah menjadi merah padam. Bagaimana mungkin ikan lupa kodratnya akan air. Bagaimana mungkin manusia lupa akan kodratnya untuk pulang. Bagaimana mungkin pula janji melupakan kodratnya untuk ditepati. Dan kau baru saja mengabaikannya.

Janji yang kita sepakati bersama. Kau berjanji untuk menjadikanku teman hidupmu. Bagaimana mungkin kau lupa? Bagaimana bisa kau dengan mudahnya memberikan cincin pertunangan untuk orang lain sementara aku berjuang dan menunggu untukmu. Dimana perasaanmu?

Terlalu rumit untuk kujelaskan.
Begitulan penjelasanmu hingga kau membuat segalanya semakin mengabur. Kau bilang itu adalah penjelasan yang paling sejelas-jelasnya. Benar saja, jelas sekali bahwa kau tidak mau memberikan penjelasan. Aku cukup tahu.

***

Mencintai bukan berarti harus seketika memiliki. Mencintai bukan berarti juga tak bisa memiliki. Kita memilih jalan tengah. Bersama dalam maya namun berpisah dalam nyata. Biarlah kita membohongi semesta dengan membuatnya menjadi wajar-wajar saja. Dan biarlah kita tetap bersama dalam persembunyian.

Mengejutkan. Rentetan kalimat panjang keluar dari mulutmu. Sayang, aku tak begitu paham. Bergegas kujawab, “Maksudmu?”

“Aku tetap menepati janji. Biarlah kita mengumbar kemesaraan dalam pertemanan.”

Aku masih belum yakin. Lalu kucoba kembali bertanya,”Teman tapi mesra?”

Kau tersenyum puas seolah ada permintaan hati yang telah tersampaikan kemudian kau mengagguk.
***

#(Pernah) diikutsertakan dalam FF 2in1 @NulisBuku, namun aku lupa waktu keberlangsungannya.

Caramu Menjagaku

2

“Aku lulus, Sayang.”

“Serius? Congratulation, Darl.”

“Aku masih gak percaya. Aku seneng banget.”

Kita meleburkan raga dalam pelukan. Pelukan kebahagianku yang sekaligus mulai memberi ragu untukku.

***

Aku siap namun tidak terlalu yakin. Aku sudah mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatanku hari ini namun aku belum yakin bahwa aku bisa berpisah jarak denganmu.

“Do the best, Darl.” katamu

“Aku khawatir. Aku khawatir kalau kita gak bisa bertahan lama dengan kondisi yang baru.”

“Ini cita-cita kamu dari dulu Sayang. Kamu gak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini cuma karena aku kan?”

“Tapi…”

“There’s no reason, Darl. I just wanna see you be successful, happy and get what you want.”

“And what about you?”

“I’m here, waiting for you.” Ucapmu sambil tersenyum lebar.

“Really?”

“Hey, gak usah lebay gitu deh Sayang. Kita bukan hidup di zaman batu. Banyak socmed yang bisa ngebuat kita tetep terasa deket.”

Kita tersenyum bersama sebelum pelukan yang menandakan perpisahan itu terjadi.

***

Grow Old with You

0

Mata kita berpandangan, lekat, penuh cinta. Sayang, hanya dalam mimpi. Tuhan memang punya cara sendiri untuk menjaga kita, salah satunya dengan jarak. Bagaimana pun keterpisahan ini sedikit atau banyak telah membawa kita pada kedewasaan, terutama untukku. Aku ingat bagaimana pertama kali kau memutuskan bahwa kita tak bisa dengan mudahnya bertatap raga, saat itu aku seketika berevolusi menjadi manusia paling cengeng di dunia. Sementara kau, dengan sabarnya memberiku pengertian.

Aku melekatkan pandangan pada langit-langit kamarku. Mendekap fotomu bersama teddy bear yang kau beri saat tiga bulan pertama masa peresmian kita menjadi sepasang kekasih. Waktu itu dengan rapinya kau susun kejutan untukku. Ah, aku terlalu banyak bernostalgia malam ini.

I always waiting for your coming here and grow old with you is the biggest hope.

Terinspirasi dari lagu :
I Wanna Grow Old with You – Westlife
#FiksiLagu @KampusFiksi

 

Ledakan

0

Percakapan lewat telepon malam itu dimulai. Aku masih bersikeras agar tradisi itu harus ada.
“Mana Mas?”
“Ini bulan puasa, banyak razia.”
“Aku tidak mau tahu, pokoknya harus ada.”
“Mas sudah seharian mencari tetapi tidak ada. Para penjualnya masih belum berani menjajakan dagangannya hari ini. Mungkin besok atau lusa setelah razia besar-besaran ini mulai mereda.”
“Acaranya besok Mas. Apa mas lupa?”
“Mas ingat Fit.”
“Lalu kenapa Mas tidak mengusahakannya? Fitri kan sudah bilang persiapkan dari awal karena itu tradisi orang Betawi, tradisi turun temurun dari yang menurut Fitri tidak boleh ditinggalkan pada acara pernikahan.”
“Mas kan sudah mencarinya seharian. Toh Mas juga tidak bisa menjanjikan semuanya.” Suara diujung sana mulai meninggi.
“Maksud Mas?”
“Kita batalkan saja rencana pernikahan kita besok.”
Percakapan itu berakhir. Aku merasakan ledakan dahsyat dari detakan jantungku lebih awal dibanding ledakan kebahagiaan yang seharusnya akan kutemui keesokan harinya. Ledakan selanjutnya adalah bahwa pembatalan itu bersumber dari phobia Mas Rudi pada ledakan.