Perihal Memaafkan dan Menerima (kembali)

4

Selamat malam.
Izinkan tulisanku malam ini menjadi dongeng sebelum tidur yang akan terbawa hingga ke alam mimpi, kemudian melekat indah pada bagian memori otak yang tak terlupakan.

Memaafkan adalah perihal kerelaan hati untuk memaklumi kesalahan yang telah diperbuat orang lain. Sedangkan menerima kembali adalah perihal kepercayaan yang kembali harus diberikan kepada orang yang telah mengkhianatinya. Tidakkah menerima kembali adalah perihal yang sulit?

Jika kalian masih dalam spesies manusia, maka rasanya pepatah ini masih berlaku untuk kita: Manusia itu tempatnya khilaf dan salah. Aku membenarkan karena tak ada manusia yang sempurna yang sepanjang hidupnya akan terhindar dari kesalahan. Namun adakah pepatah itu yang menjadi pedoman? Tentu saja tidak.

Kita memang akan diberikan pemakluman untuk beberapa kesalahan, namun tidak semuanya akan dimaklumi, terutama untuk masalah komitmen dan perulangan kesalahan. Jika saja kita bisa berpikir jernih, maka pastilah kita akan mengerti mengapa komitmen dan perulangan kesalahan merupakan pengecualian dari kaidah salah dan khilaf.

Baiklah, akan kucoba bantu menjelaskan.
Ada sebuah petunjuk yang telah diketahui sebelum kita melakukan kesalahan dalam hal komitmen dan perulangan kesalahan. Petunjuknya, bahwa dalam komitmen akan ada kalimat aku tidak akan bla bla bla atau aku akan bla bla bla. Jika kita melakukan sebaliknya, sudah pasti ada yang akan terdzolimi atau bahkan murka, tergantung pada siapa janji atau komitmen itu dibuat.
Perulangan kesalahan adalah pemakluman yang sudah tidak bisa lagi diterima. Dengan pengalaman yang sama dan pernah dialami sebelumnya, tidakkah manusia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya? Jika pengalaman itu sudah dipastikan akan berakhir buruk, maka apakah yang menjadi alasannya untuk melakukan kesalahan yang sama. Tidakkah itu sama saja dengan berusaha mendzolimi diri sendiri?

Setelah kesalahan, maka diharapkan kembali akan ada pemaafan. Namun tidakkah itu cukup?
Jika itu terasa cukup, tidakkah kita membayangkan bagaimana makanan yang sangat kita sukai yang saat itu dengan lahap kita makan ternyata telah bercampur dengan obat pencuci perut? Bagi sebagian orang hal itu akan membuatnya jera dan enggan untuk memakan kembali makanan tersebut. Begitu pun kesalahan. Memaafkan bukanlah akhir untuk membuat keadaan menjadi seperti semula. Namun ada masa dimana menerima (kembali) adalah fase akhir dari menghapus kesalahan.

Perlu diketahui bahwa kedua hal itu jarang tersedia dalam paket yang sama. Apalagi kesalahan itu berasal dari masalah komitmen atau perulangan kesalahan. Kita bisa saja memaafkan orang yang telah menyakiti kita, namun adakah kita bisa menerimanya kembali menjadi teman, sahabat, pacar atau posisi yang sebelumnya telah kita berikan kepada mereka? Memaafkan adalah perihal kerelaan hati untuk memaklumi kesalahan yang telah diperbuat orang lain. Sedangkan menerima kembali adalah perihal kepercayaan yang kembali harus diberikan kepada orang yang telah mengkhianatinya. Tidakkah menerima kembali adalah perihal yang sulit?

Manusia memang tempatnya khilaf dan salah, namun tidaklah kesalahan itu akan dengan mudah mendapatkan penerimaan kembali.
Selamat Malam 🙂

Sementara yang Ada – Part II

2

Akhirnya, tulisan bersambung itu berhasil disambungkan malam ini 🙂
Enjoy and happy reading….

Perihal keyakinan dan keraguan. Ylo tampaknya mulai tidak bisa membedakan mana keyakinan dan mana keraguan. Dia ragu untuk meninggalkan pintu milik lelaki itu. Disisi lain, Ylo juga yakin jika hubungan ini tidak akan bertahan lama. Tenaganya mulai habis, Ylo hanya berusaha beristirahat sebentar bersama bantuan lelaki pemilik pintu itu dan kemudian Ylo akan melanjutkan pergi, menuju rumahnya.

Lelaki itu semakin rekat menyembunyikan semua rahasianya bersama Ylo. Akhir-akhir ini semuanya terkesan lebih natural, terlihat memang tidak terjadi apa-apa antara Ylo dan lelaki itu. Hingga pada akhirnya, dengan segala permintaan maaf yang dia punya, lelaki itu mengatakan bahwa tempatnya bukan di sini. Dia harus kembali kerumahnya dimana dia seharusnya tinggal.

Ylo tertegun. Menatap heran kalimat yang sudah dengan rapi dia siapkan, ternyata lebih dahulu diungkapkan oleh lelaki itu. Tak ada yang bisa dibenarkan, mereka tahu bahwa rumahlah dimana tempat mereka harus kembali. Herannya, seketika itu pula Ylo sembuh. Dan layaknya lelaki itu, Ylo juga kembali menuju rumah diamana dia harus pulang. Rumah yang sebelumnya sempat ditinggalkan. Rumah yang senantiasa menyambut ramah kedatangannya.

Harusnya kita memahami, bahwa rumah memang diperuntukkan untuk kita pulang, kembali. Maka berhentilah bertingkah konyol dengan menjadikan tanah lumpur yang becek sebagai tempat persinggahan sementara pengganti rumah.

Finish….

nb :
Teruntuk kita semua yang selalu sibuk mencari tanpa berusaha bersyukur atas apa yang telah dimiliki. Belum terlambat untuk pulang, selagi rumah masih dengan ramah menyambut kedatangan kalian.
Selamat Malam 🙂

Aku Terlalu Berharga untuk Dijadikan yang Kedua

0

Tidak ada lagi yang bisa dibantahkan atas kebenaran sebuah kitab. Dan kutipan ini sudah menjadi cukup bukti.

“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya…” (QS. Al Ahzab :4)

Alasan keturunan dsb sering menjadi penyebab bagi sebagian kaum laki-laki beralih pada perempuan lainnya. Sebagian. Kutegaskan lagi, sebagian. Dan sebagian perempuan lainnya adalah (berusaha) menerima. Boleh kubuka sebuah rahasia? Yakinlah, bahwa sekeras apa pun perempuan mencoba menerima kedatangan perempuan baru lainnya, aku pastikan rasa cemburu itu selalu ada. Dan tidakkah kalian (laki-laki) tega membuat perasaan mereka digerogoti cemburu namun tidak bisa melakukan apa-apa? Jika kalian (laki-laki) masih punya hati, maka urungkanlah niat kalian.

Perihal surga.
Allah menjanjikan surga bagi wanita yang dengan rela dimadu. Tapi, tidak denganku. Penawaran ini terlalu sulit diterima. Biarlah aku memilih jalan lain untuk ke surga. Meskipun akan melalui jalan yang lebih panjang, namun setidaknya aku tidak perlu untuk tidak bahagia setiap hari di dunia.

Mengapa aku terlalu angkuh perihal mendua? Baiklah, kubeberkan penawaran yang akan kuberikan yang membuatku merasa patut untuk dijadikan satu-satunya. Bersamaku, akan kudedikasikan hidupku, kuutamakan kamu dalam setiap detik hidupku, kuperhatikan penampilanku agar kamu tak pernah bosan, kututupi semua aibmu, kubanggakan kamu didepan orang lain, kuusahakan untuk selalu memenuhi apa yang kamu inginkan dan kuingatkan kamu agar selalu menjadi imam didepanku. Tidakkah itu belum cukup? Baiklah, jika kamu ingin bukti yang lebih nyata, saksikanlah bahwa anak kita nanti menjadi sosok yang benar-benar dimaksimalkan kemampuannya dengan bantuan tanganku. Cukup.

Dengan penawaran yang sebanyak itu, kurasa aku pantas jika aku dijadikan satu-satunya. Aku hanya ingin mengalihtugaskan ibumu dalam merawatmu, itu saja. Dan aku ingin menjadi satu-satunya dalam kelayakan. Jika kamu masih berpikir ulang atau masih tidak sependapat dengaku, maka aku layak mengatakan “aku terlalu berharga untuk dijadikan yang kedua mapun diduakan”.

Perihal Pilihan dan Tujuan

0

Welcome back 🙂
Semoga tidak ada kata bosan untuk mempersilahkan mata kalian bekerja sama dengan otak dalam menerjemahkan bahasa tulis yang kubuat.
Sudah cukup lama aku vakum dalam dunia sastra, semoga saja aku tidak terlalu kaku ketika malam ini harus terjun kembali ke sana.

Aku lebih hormat ketika kamu menjadikan aku sebagai tujuan dan bukan pilihan. Karena aku ingin menjadi rangkuman yang paling mirip dengan keinginan dan kebutuhanmu. Aku tidak suka dijadikan pilihan, karena pilihanmu tidak akan pernah tepat. Yakinlah, jika berpegang pada pilihan, ditengah jalan nanti kamu akan menemukan pilihan lain yang lebih baik dari pilihanmu saat ini. Maka, jadikanlah aku tujuan, sebagai realisasi dari apa yang mampu menggenapimu. -Andalia Ayu Putry

Jika perempuan lain bangga dijadikan pilihan dari sekian banyak pilihan yang ada, maka mereka sama sekali berbeda denganku. Aku perempuan, dan aku tidak ingin dijadikan pilihan. Opsi atau pilihan adalah perihal membandingkan berdasarkan asumsi individu. Opsi adalah perihal rantai yang bersatu antara titik awal dan titik akhirnya. Opsi tak punya rumus baku tentang apa yang lebih tepat. Maka, opsi benarlah jika disebut dengan keragu-raguan.

Aku ingin dijadikan tujuan, dimana kamu akan merasa lega ketika telah sampai. Biarkan, rasa kita pada awalnya naik turun pada orang lain sebelum akhirnya masa memperbaiki diri kita selesai dan akan kau dapati aku sebagai tujuanmu. Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, pun sebaliknya. Jadi, jika tujuanku untuk menjadi baik maka akan kudapati kamu yang baik pula. Jika dan hanya jika tujuan kita adalah sama.

Maka, aku tidak pernah menjadikanmu sebagai opsi, karena aku juga tidak suka dijadikan pilihan. Biarlah jalan kita pada akhirnya menuju pada tempat yang satu, dimana kau akan temukan aku di akhir tujuanmu. Tujuan menjadikan kamu memiliki standar yang akan sendirinya menyeleksi perempuan-perempuan lain yang tidak sesuai denganmu. Temukan aku, bersama caramu memperbaiki diri.

Kuncinya telah kamu miliki, namun kamu belum menemukan pintu mana yang paling pas dengan kunci yang kamu miliki. Pintu itu merupakan cerminan yang sama dari dirimu. Temukan dan buka pintunya, kelak akan kau temukan tujuan akhirmu.

Selamat malam 🙂
ps : hai kamu, entah siapa ‘kamu’ itu. Semoga kamu lekas temukan aku sebagai tujuanmu disela perbaikan dirimu 🙂