Perihal Memaafkan dan Menerima (kembali)

Selamat malam.
Izinkan tulisanku malam ini menjadi dongeng sebelum tidur yang akan terbawa hingga ke alam mimpi, kemudian melekat indah pada bagian memori otak yang tak terlupakan.

Memaafkan adalah perihal kerelaan hati untuk memaklumi kesalahan yang telah diperbuat orang lain. Sedangkan menerima kembali adalah perihal kepercayaan yang kembali harus diberikan kepada orang yang telah mengkhianatinya. Tidakkah menerima kembali adalah perihal yang sulit?

Jika kalian masih dalam spesies manusia, maka rasanya pepatah ini masih berlaku untuk kita: Manusia itu tempatnya khilaf dan salah. Aku membenarkan karena tak ada manusia yang sempurna yang sepanjang hidupnya akan terhindar dari kesalahan. Namun adakah pepatah itu yang menjadi pedoman? Tentu saja tidak.

Kita memang akan diberikan pemakluman untuk beberapa kesalahan, namun tidak semuanya akan dimaklumi, terutama untuk masalah komitmen dan perulangan kesalahan. Jika saja kita bisa berpikir jernih, maka pastilah kita akan mengerti mengapa komitmen dan perulangan kesalahan merupakan pengecualian dari kaidah salah dan khilaf.

Baiklah, akan kucoba bantu menjelaskan.
Ada sebuah petunjuk yang telah diketahui sebelum kita melakukan kesalahan dalam hal komitmen dan perulangan kesalahan. Petunjuknya, bahwa dalam komitmen akan ada kalimat aku tidak akan bla bla bla atau aku akan bla bla bla. Jika kita melakukan sebaliknya, sudah pasti ada yang akan terdzolimi atau bahkan murka, tergantung pada siapa janji atau komitmen itu dibuat.
Perulangan kesalahan adalah pemakluman yang sudah tidak bisa lagi diterima. Dengan pengalaman yang sama dan pernah dialami sebelumnya, tidakkah manusia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya? Jika pengalaman itu sudah dipastikan akan berakhir buruk, maka apakah yang menjadi alasannya untuk melakukan kesalahan yang sama. Tidakkah itu sama saja dengan berusaha mendzolimi diri sendiri?

Setelah kesalahan, maka diharapkan kembali akan ada pemaafan. Namun tidakkah itu cukup?
Jika itu terasa cukup, tidakkah kita membayangkan bagaimana makanan yang sangat kita sukai yang saat itu dengan lahap kita makan ternyata telah bercampur dengan obat pencuci perut? Bagi sebagian orang hal itu akan membuatnya jera dan enggan untuk memakan kembali makanan tersebut. Begitu pun kesalahan. Memaafkan bukanlah akhir untuk membuat keadaan menjadi seperti semula. Namun ada masa dimana menerima (kembali) adalah fase akhir dari menghapus kesalahan.

Perlu diketahui bahwa kedua hal itu jarang tersedia dalam paket yang sama. Apalagi kesalahan itu berasal dari masalah komitmen atau perulangan kesalahan. Kita bisa saja memaafkan orang yang telah menyakiti kita, namun adakah kita bisa menerimanya kembali menjadi teman, sahabat, pacar atau posisi yang sebelumnya telah kita berikan kepada mereka? Memaafkan adalah perihal kerelaan hati untuk memaklumi kesalahan yang telah diperbuat orang lain. Sedangkan menerima kembali adalah perihal kepercayaan yang kembali harus diberikan kepada orang yang telah mengkhianatinya. Tidakkah menerima kembali adalah perihal yang sulit?

Manusia memang tempatnya khilaf dan salah, namun tidaklah kesalahan itu akan dengan mudah mendapatkan penerimaan kembali.
Selamat Malam 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Perihal Memaafkan dan Menerima (kembali)

  1. Wihhh tulisan nya 😀 bener banget tu perihal memaafkan dan menerima jarang. Jadi satu paket ketika kesalahan itu berulang, dan memang sulit untuk menerima kembali 😀 makin hebat nih dingdong nulis nya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s