Aku Terlalu Berharga untuk Dijadikan yang Kedua

0

Tidak ada lagi yang bisa dibantahkan atas kebenaran sebuah kitab. Dan kutipan ini sudah menjadi cukup bukti.

“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya…” (QS. Al Ahzab :4)

Alasan keturunan dsb sering menjadi penyebab bagi sebagian kaum laki-laki beralih pada perempuan lainnya. Sebagian. Kutegaskan lagi, sebagian. Dan sebagian perempuan lainnya adalah (berusaha) menerima. Boleh kubuka sebuah rahasia? Yakinlah, bahwa sekeras apa pun perempuan mencoba menerima kedatangan perempuan baru lainnya, aku pastikan rasa cemburu itu selalu ada. Dan tidakkah kalian (laki-laki) tega membuat perasaan mereka digerogoti cemburu namun tidak bisa melakukan apa-apa? Jika kalian (laki-laki) masih punya hati, maka urungkanlah niat kalian.

Perihal surga.
Allah menjanjikan surga bagi wanita yang dengan rela dimadu. Tapi, tidak denganku. Penawaran ini terlalu sulit diterima. Biarlah aku memilih jalan lain untuk ke surga. Meskipun akan melalui jalan yang lebih panjang, namun setidaknya aku tidak perlu untuk tidak bahagia setiap hari di dunia.

Mengapa aku terlalu angkuh perihal mendua? Baiklah, kubeberkan penawaran yang akan kuberikan yang membuatku merasa patut untuk dijadikan satu-satunya. Bersamaku, akan kudedikasikan hidupku, kuutamakan kamu dalam setiap detik hidupku, kuperhatikan penampilanku agar kamu tak pernah bosan, kututupi semua aibmu, kubanggakan kamu didepan orang lain, kuusahakan untuk selalu memenuhi apa yang kamu inginkan dan kuingatkan kamu agar selalu menjadi imam didepanku. Tidakkah itu belum cukup? Baiklah, jika kamu ingin bukti yang lebih nyata, saksikanlah bahwa anak kita nanti menjadi sosok yang benar-benar dimaksimalkan kemampuannya dengan bantuan tanganku. Cukup.

Dengan penawaran yang sebanyak itu, kurasa aku pantas jika aku dijadikan satu-satunya. Aku hanya ingin mengalihtugaskan ibumu dalam merawatmu, itu saja. Dan aku ingin menjadi satu-satunya dalam kelayakan. Jika kamu masih berpikir ulang atau masih tidak sependapat dengaku, maka aku layak mengatakan “aku terlalu berharga untuk dijadikan yang kedua mapun diduakan”.

Perihal Pilihan dan Tujuan

0

Welcome back 🙂
Semoga tidak ada kata bosan untuk mempersilahkan mata kalian bekerja sama dengan otak dalam menerjemahkan bahasa tulis yang kubuat.
Sudah cukup lama aku vakum dalam dunia sastra, semoga saja aku tidak terlalu kaku ketika malam ini harus terjun kembali ke sana.

Aku lebih hormat ketika kamu menjadikan aku sebagai tujuan dan bukan pilihan. Karena aku ingin menjadi rangkuman yang paling mirip dengan keinginan dan kebutuhanmu. Aku tidak suka dijadikan pilihan, karena pilihanmu tidak akan pernah tepat. Yakinlah, jika berpegang pada pilihan, ditengah jalan nanti kamu akan menemukan pilihan lain yang lebih baik dari pilihanmu saat ini. Maka, jadikanlah aku tujuan, sebagai realisasi dari apa yang mampu menggenapimu. -Andalia Ayu Putry

Jika perempuan lain bangga dijadikan pilihan dari sekian banyak pilihan yang ada, maka mereka sama sekali berbeda denganku. Aku perempuan, dan aku tidak ingin dijadikan pilihan. Opsi atau pilihan adalah perihal membandingkan berdasarkan asumsi individu. Opsi adalah perihal rantai yang bersatu antara titik awal dan titik akhirnya. Opsi tak punya rumus baku tentang apa yang lebih tepat. Maka, opsi benarlah jika disebut dengan keragu-raguan.

Aku ingin dijadikan tujuan, dimana kamu akan merasa lega ketika telah sampai. Biarkan, rasa kita pada awalnya naik turun pada orang lain sebelum akhirnya masa memperbaiki diri kita selesai dan akan kau dapati aku sebagai tujuanmu. Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, pun sebaliknya. Jadi, jika tujuanku untuk menjadi baik maka akan kudapati kamu yang baik pula. Jika dan hanya jika tujuan kita adalah sama.

Maka, aku tidak pernah menjadikanmu sebagai opsi, karena aku juga tidak suka dijadikan pilihan. Biarlah jalan kita pada akhirnya menuju pada tempat yang satu, dimana kau akan temukan aku di akhir tujuanmu. Tujuan menjadikan kamu memiliki standar yang akan sendirinya menyeleksi perempuan-perempuan lain yang tidak sesuai denganmu. Temukan aku, bersama caramu memperbaiki diri.

Kuncinya telah kamu miliki, namun kamu belum menemukan pintu mana yang paling pas dengan kunci yang kamu miliki. Pintu itu merupakan cerminan yang sama dari dirimu. Temukan dan buka pintunya, kelak akan kau temukan tujuan akhirmu.

Selamat malam 🙂
ps : hai kamu, entah siapa ‘kamu’ itu. Semoga kamu lekas temukan aku sebagai tujuanmu disela perbaikan dirimu 🙂