Sementara yang Ada

2

Haiiii…
Udin lamak bingit gak ngeblog dan nengok perkembangannya. Kalian pokoknya harus banyak-banyak maklum sama mahasiswa tingkat akhir kalo gak mau bikin mereka naik darah. Oke, udah ngerti kan maksudnya.
Gak tau kenapa mendadak kangen aja nulis (kecuali skripsi ya, nykripsi lah bahasa gaulnya). Jadi, pagi hari yang cerah ini didedikasikan untuk ngeblog setelah nyaris selesai revisi.

-Abaikan saja prolognya-
Zzzzz…

Matanya bersinar beberapa detik dan kemudian berkaca-kaca. Dia bilang, dia telah menemukan. Tubuhnya roboh kemudian dia merasakan hidung dan matanya penuh dengan air, wajahnya mendadak terasa hangat. Dia tidak bisa berkata-kata lagi, yang jelas dia merasa bahagia, sangat bahagia.

Perempuan itu tumbuh layaknya perempuan lainnya. Pernah kudengar bahwa namanya Lyloa Annastasya. Meskipun nama panggilan seringkali diwakili oleh penggalan awal nama depan atau penggalan akhirnya, namun dia lebih suka dengan penggalan tengah nama depannya, Ylo (baca: ilo). Entah lebih pantas disebut nama panggilan atau istilah asing yang tidak punya makna.

Ylo tidak pernah berusaha mencari, dia hanya berusaha menemukan. Dia percaya bahwa seringkali mengaumkan keinginan hanya akan membuatnya kecewa, lalu dia hanya berusaha untuk menemukan tanpa kemudian berusaha mencari. Benar saja, dia menemukannya.

Dia masih belum yakin. Apa yang dia temukan hanya berusaha memeluknya tanpa kasat mata dan seringkali dia tidak menyadari bahwa pelukan itu ada. Lalu dia mencoba memisahkan apa yang disebutnya rumah dan apa yang disebutnya pintu. Dia biarkan rumah tersebut tetap tinggal bersama pelukan tersebut, sementara dia pergi menuju masa depan dengan membawa pintu dan berusaha menemukan yang tepat untuk membukanya.

Ditengah perjalanan, dia bertemu dengan pintu lainnya dan mempersilahkannya untuk sementara bertempat tinggal di dalamnya, dan begitu pula sebaliknya. Pintu itu milik lelaki yang juga sedang berusaha menemukan kembali. Semacam prinsip barter atau timbal balik. Mereka kemudian menemukan tempat ternyaman dalam kesementaraan itu. Perempuan hanya berusaha untuk mengikhlaskan dengan menyadari batas waktu yang telah disepakati, sementara lelaki masih ingin berada di sana.

Mereka terlibat perbincangan panas, banyak sekali konflik batin yang terlalu naif untuk diabaikan. Kemudian, mereka bertetap pada kenyamanan. Sepertinya rasa nyaman sudah menjadi tolak ukur yang paling mumpuni bagi mereka. Mereka tidak lagi saling bertukar tinggal, mereka menghadapkan pintu mereka dengan arah yang berlawanan pada posisi panel buka pintu yang berada di luar. Mereka percaya bahwa dengan begitu akan membebaskan mereka untuk masuk dan kembali bertemu satu sama lain dalam ruang yang sama tanpa harus diketahui orang lain karena mereka mengaktifkan sistem pura-pura tidak tahu kepada orang lain.

Mereka merasa begitu nyaman dan sejujurnya Ylo juga merasa begitu sakit. Mereka hanya merasakan kenyamanan ketika bersama kemudian harus kembali berpura-pura tidak tahu kepada orang lain. Ylo sering mengatakan bahwa apa jadinya ini pada akhirnya namun lelaki itu hanya tersenyum.

Bersambung…

Advertisements