Learn From Arround

0

No move on, time just wanna us to get new experience. -Andayury

Kemarin, sebagai guru pemula aku kembali meneruskan rutinitas untuk bertemu anak didik yang hidup dengan karakternya masing-masing. Sebut saja kelas B yang ribut dan sering memancing kemarahan tetapi mereka benar- benar tahu bagaimana cara membuatku kembali tertawa. Mereka hebat.

Langsung saja, mendadak ada seorang siswa yang meminta bantuanku untuk mengajarinya, entah sebuah alibi atau tidak yang jelas ketika aku bersusah payah menjelaskan dengan mereka sekelas dia adalah salah satu yang tidak memperhatikan. Kutanya kenapa, dia bilang kalau dia gak ngikutin pelajarannya dari awal maka dia males buat belajar. I do, dia emang dateng telat. Baiklah, kuterima alasannya.

Aku mulai menunjukkan rumus jadi yang penting untuk diketahui. Aku tidak mengajarinya terlalu spesifik, mengingat waktu dan jujur saja aku sanksi dia bisa langsung mengerti. Maaf, bukan bermaksud meremehkan. Kemudian kita mulai keluar dari zona pelajaran ketika dia mengucapkan suatu pernyataan, “Sebenernya cita-cita aku ini gak ada hubungannya dengan fisika.”

Aku begitu memaklumi orang-orang yang pada akhirnya akan keluar dari zona yang aku ajarkan. Tidak ada pemaksanaan untuk suatu pembelajaran. Berlanjut kutanya, “apa cita-citamu?”

“Jadi…..” aku lupa apa yang dia katakan, masalahnya aku terlalu asing dengan kata tersebut.

Aku mengerutkan dahi tanda tidak mengerti, “Apa itu?”

“Kan ilmu agamanya masih dangkal.” ejeknya.

“Jadi ustadz?” tanyaku

“Iya, aku pengen ikut aksi ramadhan tahun depan.”

Hhahaa… aku tertawa tanda tak percaya, “Gak ada tampangnya.”

“Kan kayak alm. uje Kak. Dia dulu orang yang gak bener tapi akhirnya bertaubat dan jadi ustadz, kalo begitu berarti akan ada yang diceritakan. Lebih baik jadi orang gak baik dulu terus jadi baik dibanding dari orang baik terus jadi orang gak baik.”

“Lebih baik terus jadi orang baik kan? Beneran ya, aku tunggu di tv ramadhan tahun depan.”

“Aku gak bisa janji Kak. Gimana kalo aku gak lolos.”

“Seenggaknya ada buktinya kalo kamu ikut.”

“Aku ini Kak, mantan ketua rohis.”

“Mantan? Bukannya kalo kelas xi itu emang ketua dari organisasi.”

“Aku ini ibarat Jokowi, yang dari gubernur terus jadi presiden.”

“Gayamu.” ejekku.

“Beneran Kak. Aku ini awalnya ketua rohis terus aku terpilih jadi ketua osis. Makanya aku mantan ketua rohis.”

Hhahaha… “Siapa yang milih kamu?”

“Guru-guru Kak. Sudah ah Kak, nanti pacar aku liat.”

Namanya Ilham, pasti dia bangga banget kalo liat cerita dia aku tulis di blog kayak gini. Ya gak Am?
Orangnya supel banget. Untuk jadi pemimpin emang butuh orang yang dekat dengan lingkungan yang akan dipimpinnya dibanding orang yang pintar. Aku percaya kok Am kalo kamu ketua osis, selain pin yang ada di jas kamu aku yakin kalo kamu emang beneran ketua osis kalo ngeliat dari sifat kamu.
Pokoknya kabarina aku apapun yang terjadi di bulan ramadhan tahun depan, harus ikut aksi ramadhan ya. Aku tungguin lima sampai sepuluh tahun lagi (doakan semoga kita sama-sama panjang umur) sampai kamu jadi ustadz dan beneran nongol di tv, no, bahkan mungkin bisa lebih dari itu. Oh iya, calon ustadz kok pacaran? Lupa, kamu kan sekarang belum jadi orang baik, kan katamu biar bisa jadi pengamalan kalo udah bener jadi ustadz nanti.
Btw, cita-citamu keren juga. Jarang banget yang pikirannya kayak kamu. Keep passion, let’s fighting the life 🙂

Advertisements