(Yang Disebut) Setia

2

Hey, this is my first post in this page.
Aku membuka selebar-lebarnya pintu komentar buat kalian tentang postingan kali ini 😄

Pagi itu di pagi menjelang siang.
Aku bersama seorang temanki masuk ke sebuah ruangan yang ramai namun tetap sunyi. Perlahan dia membuka pintu dan perlahan pula aku menutup pintu. Kita berusaha mengadaptasikan diri dalam kesunyian. Kita mencari celah, mengambil kursi yang berada jauh di belakang. Kursi itu bikan bagian dari kita. Dia meronta ketika kami hendak mengajaknya tenggelam dalam kesunyian.

Kita berhenti, berhenti mengharapkan kursi itu.

Kita mengambil kursi lainnya. Dan mereka bersedia untuk berada dalam aturan main. Kita memilih kursi yang ini dan meninggalkan kursi yang sebelumnya. Apakah kami layak disebut tak setia?

Kita duduk. Baru sekejap saja. Kemudian kita mendapatkan berita mencengangkan ketika dia yang ingin kita temui memutuskan untuk meninggalkan kita. Aku sempat bertanya dalam hati, mengapa kita tidak mencoba untuk tetap bersama dalam suasana layaknya seorang LDRers? Sebelum sempat aku berucap dia terlebih dahulu menjelaskan. “Mumpung kalian masih baru baiknya secepatnya mencari pengganti. Bukan tidak mau hanya saja saya tidak ingin urusan ini malah menghambat kita satu sama lain.”

Dia yang tidak selalu berkata apa adanya tentang apa yang dia rasakan, selalu mengajarkan untuk menjadi manusia yang survive dan bertarung dengan keadaan, membuatku merasa begitu nyaman di akhir perjalanan kita. Bagaimana bisa orang yang kuharap dapat menemaniku sampai akhir malah dengan sejujurnya berkata tidak bisa lagi denganku. Bukan kehendaknya namun keadaanlah yang memaksa. Namun apapun bentuknya perpisahan tetap menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan.

Aku ingat kalimatmu, “Kalau memang mau, tunggu tiga tahun lagi.”
Apakah ini yang dinamakan setia? Merelakan mereka yang kita cintai memiliki apa yang mereka ingini. Kita? terus melanjutkan hidup bersama yang lainnya dengan harapan kembali dipertemukan dengannya pada keadaan yang lebih baik.

#Selamat jalan, Bu. Semoga secepatnya mendapat gelar doktor. Kau perempuan luar biasa yang selalu berjuang dalam kodrat menjadi Ibu. Kucontoh betul semangatmu. Aku anak bimbinganmu hanya bisa berlapang dada atas berlepasmu untuk menanggungjawabiku. Doakan aku bisa menggantikan kalian saat kalian beralih menjadi pengajar pasca kelak. Jika pun tidak, semoga kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik lagi. Mari kita berjuang untuk meninggikan derajat kita dimata Tuhan dan masyarakat dengan ilmu.

 

20 Tahun Lagi

0

 

Tak kusangka setelah sekian lama akhirnya kita bisa bersisian. Wajahmu masih tetap kukenali meski tak persis sama seperti yang dulu. Banyak kerutan yang tampak di wajahmu, matamu sudah mulai berkantung dan di dahimu tampak sebuah tulisan permanen yang terbaca yaitu presiden. Ternyata ambisimu makin meroket. Semakin jatuh maka akan semakin meroket. Entah analogi macam apa itu yang jelas seperti itulah kenyataannya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyamu membuka percakapan.

“Kau bisa lihat aku baik-baik saja.” Jawabku.

“Hah, makhluk seperti kau ini yang paling mudah diingat orang. Keras, menyebalkan dan penuh misteri.”

Aku diam. Ada baiknya untuk tak menanggapi.

Pelayan mulai mendatangi kita. Membawakan dua gelas jus jagung dan dua porsi mie aceh. Kamu pernah bilang jus jagung adalah minuman terburuk yang pernah ada, aku masih sangat ingat  itu. Dan hari ini kamu mengecualikan perkataanmu itu dengan alasan yang tak kutahui. Entah ada angin apa sampai kamu rela untuk menyamakan menu denganku dan hebatnya ini semua kunikmati secara gratis.

“Sedang menjilat ludah sendiri?” tanyaku.

Kamu mengernyitkan dahi seolah tak mengerti. Kemudian aku memberi isyarat lewat lirikanku terhadap jus jagung yang sedang kau nikmati. Entah dengan terpaksa atau sukarela.

“Ini pengecualian. Aku juga ingin menikmati apa yang kau anggap nikmat.”

“Apa termasuk menikmati apa yang kuanggap tidak nikmat?”

“Ah sudahlah. Sedari tadi kita terlihat kurang akrab. Bagaimana jika kita mencoba berdamai terlebih dahulu.” Tukasmu.

Aku diam lagi dan lebih memilih menikmati mie aceh yang sudah mulai mendingin. Kamu yang melihatku sedang asyik bersantap malah mengikuti kegiatanku. Kita diam sejenak. Hanya ada suara perlengakapan santap sore kita yang bersentuhan satu sama lain.

***

“Apa saja kegiatanmu?”

“Menikmati kehidupan sebagai seorang istri.”

“Masih bergulat dengan kebiasaan lama?”

“Itukan hanya sekedar kelebihan yang tak pernah terlalu kudalami. Lagipula aku takut dibilang musyrik.”

“Lho? Bukannya itu sebuah anugerah yang patut disyukuri. Bukti nyatanya itu suamimu.”

Aku diam lagi. Kali ini untuk meredakan amarah.

Kamu tidak pernah berubah. Bagaimana bisa kamu akan tetap bertahan dengan mimpi-mimpi yang tinggi jika kamu sendiri yang menjatuhkannya. Sampai kapan kamu bisa bertahan?

“Sudahlah, aku sangat mengerti apa yang membuatmu tiba-tiba datang menemuiku setelah sekian tahun kita tak pernah bertemu, menjamu dengan makanan kesukaanku dan bahkan menyamakan menu denganku padahal sudah sangat jelas kamu tidak menyukainya, berubah seolah menjadi malaikat yang penuh kelembutan. Semuanya pura-pura kan?”

“Ada apa denganmu? Apa suamimu marah kita jalan bersama?”

“Tidak! Tidak sama sekali. Aku bahkan sudah terlebih dahulu bercerita kepadanya sebelum kamu sempat menelpon untuk mengajakku bertemu hari ini. Dan dia sama sekali tidak marah. Sama sekali.”

“Lalu apa?” katamu pura-pura sabar.

“Sudahlah. Bagaimana kamu bisa bertahan dengan mimpi-mimpimu jika kamu yang selalu berusaha menjatuhkannya? Aku bukan Tuhan, Rangga. Kenapa kamu datang kepadaku untuk melihat masa depanmu? Kenapa kamu bertanya padaku tentang keinginanmu untuk menjadi presiden 25 tahun kelak? Kenapa kamu bertanya padaku seolah aku tahu segalanya tentang masa depan.”

“Itulah kelebihanmu.”

“Tapi bukan untuk dimanfaatkan oleh orang-orang sepertimu kan?” jawabku lantang.

Kamu akhirnya terdiam.

“Kenapa kamu tidak berusaha memantaskan dirimu untuk mencapai mimpi-mimpimu? Mengapa kamu tidak berusaha untuk menjadi orang yang lebih jujur? Kenapa kamu tidak berusaha untuk terlebih dahulu memperbaiki dirimu? Kamu harus menjadi orang yang lebih baik dulu.”

Kamu menunduk terdiam. Tak lama kamu meninggalkanku. Aku tersenyum lega dan berkata dalam hati, “Aku tahu kamu yang akan memimpin bangsa ini 20 tahun lagi Rangga.”

*Diikutsertakan dalam #DramatisasiPolitik oleh @KampusFiksi