Dia dan Imbalannya

0

Kangen nulis. Semalam, sukup senggang dan coba-coba ikut #CERMIN.
Dan hasilnya ya gini

SELAMAT MEMBACA …

Kulihat dia sudah siap menunggu kedatangan kekasihnya. Setiap pagi, bahkan hari ini lebih pagi dari biasanya. Dia bilang kekasihnya akan tidak bisa mengantar jika lebih dari jam setengah tujuh pagi. Jadilah dia yang harus bangun lebih pagi dan mengerjakan segala pekerjaan rumah lebih pagi lagi agar tetap bisa diantar kekasihnya. Semua itu hanya demi satu, demi menghemat jatah pengeluaran tiap bulannya. “Kalau gak dianter jemput oleh Ari, tekor aku. Kalau  ngandelin gaji yang cuma tiga ratus ribu tiap bulan, gak balik modal.” Begitulah katanya.

Sepulang mengajar, kulihat wajahnya begitu murung. Tak perlu kutanya, dia telah terlebih dahulu bercerita.

“Aida mau berhenti mengajar. Dia dipaksa keluarganya nyari kerjaan lain yang gajinya lebih besar. Benar sih gaji kita memang kecil bahkan jauh dibawah UMR.”

Aku tersenyum kemudian mencoba memberikannya jalan untuk berpikir dengan sesadar-sadarnya.

Besoknya, dia kembali bersemangat. Kembali menjalani rutinitasnya dan merelakan diri menjadi salah satu bagian pelaksana tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan upah tiga ratus ribu rupiah per bulan. Satu lagi, tanpa kehadiran Aida, teman kerjanya yang terlebih dahulu mengundurkan diri karena alasan uang.