Cara Kita Mencinta

0

Kamu terlambat.
Masih sangat jelas bagaimana kamu mengatakan kalimat tersebut. Pipiku yang awalnya merona akibat rasa malu-malu seketika berubah menjadi merah padam. Bagaimana mungkin ikan lupa kodratnya akan air. Bagaimana mungkin manusia lupa akan kodratnya untuk pulang. Bagaimana mungkin pula janji melupakan kodratnya untuk ditepati. Dan kau baru saja mengabaikannya.

Janji yang kita sepakati bersama. Kau berjanji untuk menjadikanku teman hidupmu. Bagaimana mungkin kau lupa? Bagaimana bisa kau dengan mudahnya memberikan cincin pertunangan untuk orang lain sementara aku berjuang dan menunggu untukmu. Dimana perasaanmu?

Terlalu rumit untuk kujelaskan.
Begitulan penjelasanmu hingga kau membuat segalanya semakin mengabur. Kau bilang itu adalah penjelasan yang paling sejelas-jelasnya. Benar saja, jelas sekali bahwa kau tidak mau memberikan penjelasan. Aku cukup tahu.

***

Mencintai bukan berarti harus seketika memiliki. Mencintai bukan berarti juga tak bisa memiliki. Kita memilih jalan tengah. Bersama dalam maya namun berpisah dalam nyata. Biarlah kita membohongi semesta dengan membuatnya menjadi wajar-wajar saja. Dan biarlah kita tetap bersama dalam persembunyian.

Mengejutkan. Rentetan kalimat panjang keluar dari mulutmu. Sayang, aku tak begitu paham. Bergegas kujawab, “Maksudmu?”

“Aku tetap menepati janji. Biarlah kita mengumbar kemesaraan dalam pertemanan.”

Aku masih belum yakin. Lalu kucoba kembali bertanya,”Teman tapi mesra?”

Kau tersenyum puas seolah ada permintaan hati yang telah tersampaikan kemudian kau mengagguk.
***

#(Pernah) diikutsertakan dalam FF 2in1 @NulisBuku, namun aku lupa waktu keberlangsungannya.

Advertisements

Caramu Menjagaku

2

“Aku lulus, Sayang.”

“Serius? Congratulation, Darl.”

“Aku masih gak percaya. Aku seneng banget.”

Kita meleburkan raga dalam pelukan. Pelukan kebahagianku yang sekaligus mulai memberi ragu untukku.

***

Aku siap namun tidak terlalu yakin. Aku sudah mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatanku hari ini namun aku belum yakin bahwa aku bisa berpisah jarak denganmu.

“Do the best, Darl.” katamu

“Aku khawatir. Aku khawatir kalau kita gak bisa bertahan lama dengan kondisi yang baru.”

“Ini cita-cita kamu dari dulu Sayang. Kamu gak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini cuma karena aku kan?”

“Tapi…”

“There’s no reason, Darl. I just wanna see you be successful, happy and get what you want.”

“And what about you?”

“I’m here, waiting for you.” Ucapmu sambil tersenyum lebar.

“Really?”

“Hey, gak usah lebay gitu deh Sayang. Kita bukan hidup di zaman batu. Banyak socmed yang bisa ngebuat kita tetep terasa deket.”

Kita tersenyum bersama sebelum pelukan yang menandakan perpisahan itu terjadi.

***