Ledakan

0

Percakapan lewat telepon malam itu dimulai. Aku masih bersikeras agar tradisi itu harus ada.
“Mana Mas?”
“Ini bulan puasa, banyak razia.”
“Aku tidak mau tahu, pokoknya harus ada.”
“Mas sudah seharian mencari tetapi tidak ada. Para penjualnya masih belum berani menjajakan dagangannya hari ini. Mungkin besok atau lusa setelah razia besar-besaran ini mulai mereda.”
“Acaranya besok Mas. Apa mas lupa?”
“Mas ingat Fit.”
“Lalu kenapa Mas tidak mengusahakannya? Fitri kan sudah bilang persiapkan dari awal karena itu tradisi orang Betawi, tradisi turun temurun dari yang menurut Fitri tidak boleh ditinggalkan pada acara pernikahan.”
“Mas kan sudah mencarinya seharian. Toh Mas juga tidak bisa menjanjikan semuanya.” Suara diujung sana mulai meninggi.
“Maksud Mas?”
“Kita batalkan saja rencana pernikahan kita besok.”
Percakapan itu berakhir. Aku merasakan ledakan dahsyat dari detakan jantungku lebih awal dibanding ledakan kebahagiaan yang seharusnya akan kutemui keesokan harinya. Ledakan selanjutnya adalah bahwa pembatalan itu bersumber dari phobia Mas Rudi pada ledakan.

Seketika

0

Aku memandangi benda bersinar redup dihadapanku. Cahayanya masih bersinar sebagaimana yang diharapkan. Beginilah pekerjaanku hampir tiap malam. Kasarnya mungkin bisa disebut sebagai titisan kelelawar, bangun di malam hari dan tidur di siang hari. Terlebih lagi saat malam jumat yang konon menaruh hawa mistis, pasti masa bangunku akan lebih panjang karena ada ritual pemujaan terlebih dahulu.

Untungnya, aku tidak sendiri menjadi titisan kelelawar. Masih ada suamiku yang harus bekerja lebih keras dalam masa bangunnya di malam hari karena harus berkeliling rumah warga dengan wujudnya yang berupa binatang. Sementara aku hanya menunggu dan menjaga tanpa boleh mengalihkan pandangan dari benda bercahaya yang berdiri didalam baskom yang berisi air.

Aku tersentak menyaksikan benda bercahaya itu bergoyang-goyang. Secepat kilat kuhembuskan karbon dioksida melalui mulutku. Seketika api itu padam dan suamiku kini berada dihadapanku dengan jubah hitamnya. Beruntung aku tidak lalai menjaga benda bercahaya itu.

Suamiku tersenyum sebagai tanda kemakhiranku akan tugas ini. Kami pulang dan aku benar-benar tak sabar menyaksikan tumpukan uang dan emas yang tergeletak di dalam kamarku.

Foto

0

Kulihat pantulan wajahku di cermin. Tidak seperti biasanya, wajahku terlihat lebih cantik meskipun dengan bantuan make up.  Aku tampak puas dengan hasil riasan ini sang perias amatir ini.

            “Sudah selesai Bi. Gimana?”

            “Tante bakat juga jadi tukang rias.” Ledekku

            “Masih sempet ngeledek juga. Ayo cepat masuk mobil, kalo kesiangan nanti jalanan macet.”

            Aku mengikuti komandonya. Perempuan ini  lah yang lima tahun terakhir ini membuatku besar. Tak pernah kubayangkan hari ini akan datang jika tanpa dia.

***

 

            Namaku dipanggil dan predikat dengan pujian disematkan kepadaku. Aku begitu menikmati bagaimana toga ini menjadi saksi atas lahirnya satu sarjana kedokteran lewat rahim seorang ibu yang hanya berprofesi sebagai pembantu. Andai saja aku menyerah saat itu, pasti aku tak pernah sampai ke puncak ini. Ucapan ibu tak pernah salah.

            “Bi,  kita ke studio foto dulu yuk. “ ajak Tante Rina

            “Gak usah Te. Febi mau berfoto dengan ibu saja.”

            Tante Rina tak memaksa dan segera menuruti permintaanku. Dengan segera, mobil ini membawaku ke suatu tempat yang aku yakini bisa bertemu ibu. Aku berfoto bersama ibu. Seketika kulihat aku berdiri dan memeluk nisan bertuliskan “Kirana” pada hasil jepretan foto itu.