Mengingat Kembali

1

“Aku tak langsung menjadi menjadi aku yang sekarang yang bisa melakukan sesuatu sendiri, memilih pakaian yang cocok untuk dipakai tiap hari, mengubah bahasa kata menjadi perbuatan dan mengerti bagaimana bisa bertahan hidup serta melakukan hal-hal yang logis. Dulu aku hanya seonggok daging yang bernyawa, tak bisa melakukan apa-apa, lemah, menerjemahkan semua kejadian berlandaskan  pengetahuan yang dangkal dan tanpa logika.”

Mengingat masa lalu memang memberikan kenangan tersendiri. Hidup yang sebentar ini pun ternyata akan memberikan banyak kenangan. Misalnya ketika melihat kalkulator, aku teringat teman SD yang selalu menjemputku sebelum pergi sekolah yang waktu itu meminjam kalkulator mamaku untuk menjawab soal di ‘buku cetak’ Matematika. Ketika melihat diary, aku teringat Ossy, manusia paling berjasa yang mempertemukanku dengan tulisan hingga aku bisa segila ini dengan dunia menulis.

Aku lupa momen apa waktu itu yang jelas Ossy memberikanku sebuah diary mungil berwarna pink bergambar Pink Hanna. Masih kusimpan hingga sekarang di rumah orang tua kandungku, di Baturaja. (Sayang aku tak bisa menampilkannya secara visual karena saat ini aku tidak berada di rumah orang tuaku). Dari diary itulah masa percintaanku dengan dunia menulis dimulai. Mengisi diary ala anak SD dengan semua kejadian nyata pada hari itu membuatku merasa menemukan dunia baru disamping bermain dengan teman sebayaku. Hingga saat SMP  aku mulai merambah di dunia perlombaan. Pertama sekali aku mengikuti lomba Karya Tulis Peningkatan Iman dan Taqwa. Meskipun tidak menjadi juara namun panitia memberikan penghargaan atas keikutsertaanku. Hingga sekarang, sudah banyak lomba yang kuikuti, mulai dari lomba menulis cerpen, lomba menulis puisi, lomba essai dan berbagai lomba menulis yang banyak dipromosikan lewat twitter.

ii

Banyak lomba yang kuikuti tapi hanya sedikit yang memilihku menjadi pemenang. Tak apa, itu bukan alasan untuk berhenti menulis karena pada dasarnya aku mencintai dunia menulis. Dan mencintai tak perlu menuntut balasan namun mereka sendirilah yang akan menyerahkan hatinya hingga menerima kehadiranku di dunia mereka, dunia menulis. Kehadiran kesenangan dan kelegaan sehabis menulis sudah sangat cukup bagiku apalagi jika aku bisa diapresiasi lewat penghargaan. Ah, begitu menakjubkan.

Bagiku, membandingkan adalah salah satu cara untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik. Sayangnya, aku belum membandingkan tulisanku ini dengan pesaing lainnya. Dan aku percaya penuh kepada @bellazoditama dan @Kopilovie untuk membandingkannya. Jika setelah dibandingkan aku berada dikoridor yang pantas untuk diapresiasi aku menyambutnya dengan suka cita karena kebanggaan adalah mendapatkan apresiasi lewat hal yang dibuat secara original, tanpa keterpaksaan dan membuahkan senyum kelegaan setelah menyelesaikannya. Dan aku menjamin 100% untuk ketiga kriteria itu dalam tulisan ini. Jika aku memang bukan merupakan salah satu manusia pilihan sebagai pemenang dalam kuis ini, tak apa. Karena dikalahkan oleh orang yang memang pantas menjadi pemenang adalah guru yang bisa menyadarkan untuk tidak menjadi sombong dan mengajarkan untuk lebih banyak belajar agar pada kesempatan berikutnya pantas menjadi pemenang.

Terimakasih Ossy Clara Nita Nanda Triar yang sekarang aku tak tahu dia dimana. Semoga kita bisa bertemu kembali agar aku bisa mengucapkan terima kasih

Advertisements

Ketika Hujan

2

“Ibuuukkk….”

Terdengar suara khas anak kecil yang aku tahu pasti itu dia.

Aku beranjak, seolah putri tidur yang terbangun tiba-tiba. Kemudian berlari menuju sumber suara yang sebenarnya bisa dijangkau dengan sepuluh langkah kaki dengan jalan biasa.

“Ada apa?” tanyaku dengan penasaran.

Semua mengacuhkanku kecuali Tante Amanah yang sedang menggendong anak keduanya yang brekele.

“Zidan terkunci sendirian di dalam kamar.”

Aku tersentak. Bagaimana bisa untuk seorang Zidan yang baru berumur dua tahun? Tangannya tak sepanjang itu untuk meraih pengunci. Aku semakin penasaran.

“Kok bisa Te?”

Kali ini dia mengacuhkanku dan tibalah semua orang mengacuhkan pertanyaanku, kecuali Riji, anak kali-laki berumur 4 tahun yang berstatus sebagai sepupuku.

“Tadi Iyan yang menutup pintunya Kak terus tiba-tiba pintunya terkunci sendiri.” Dia memberikan jawaban layaknya umur yang dimilikinya.

Terkunci sendiri? Aku masih penasaran. Bagaimana bisa?

Oh iya, rumah ini memang sedikit berbeda dibandingkan dengan ruman zaman sekarang. Rumah ini masih mempertahankan prinsip Betawi yang menandakan bahwa Kakek adalah keturunan Betawi. Mungkin saja itu alasannya. Bisa juga karena sang penghuni rumah enggan mendesain ulang rumah luas ini. Ya, luas. Banyak jendela, berwarna hijau, diteduhkan oleh pohon asem yang konon menjadi rumah makhluk gaib, pohon pisang yang kabarnya punya andil tentang kuntilanak, pohon bambu yang kabarnya tidak boleh sembarangan ditebang, pohon mangga dan pohon jambu yang sekarang sudah tinggal kenangan.

Berbeda dengan rumah lainnya yang sudah cukup modern dengan pengunci pintu yang multi, beberapa ruangan dari rumah ini hanya mengandalkan kunci dari kayu yang serupa dengan sikat pakaian yang gundul dengan paku ditengahnya agar bagian lainnya bisa berputar dengan bebas mengunci dan membuka pintu. Naas, kunci itu terlalu bebas akibat dorongan Iyan yang mengakibatkan Zidan terkunci sendirian, didalam.

Lalu bagaimana? Kayu zaman dahulu kokohnya bukan main sehingga agak sulit untuk mendobrak pintu. Jendela sudah dikunci lebih awal karena hujan yang mengguyur dan takut akan membasahi rumah. Hanya ada satu-satunya jalan.

“Ibuukkkk….” Zidan kembali menjerit dan menangis namun terdengar agak samar akibat hujan suara hujan yang mengguyur

Tiba-tiba Om Syahran yang juga berstatus Omnya Zidan masuk ke kamar dimana Zidan terkunci melalui celah yang diantara kamar tersebut dan kamar Kakek. Mungkin dulu celah besar itu dibuat karena kekurangan bahan baku kayu. Namun sekarang celah itu sebagai satu-satunya jalan paling indah untuk menyelamatkan Zidan, tanpa harus merusak bagian rumah.

Ya, rumah ini punya sejuta keunikan. Prosesi terkunci dan penyelamatan Zidan sore ini kembali menambah kenanganku ketika hujan.

26122011151